Bergumpal Seperti Cumulonimbus Itu. . .

Standar

Tiada telinga dan bahu terbaik yang bisa leluasa mendengarkan keluhan hati saya selain sebuah alas ketika bahu yang beberapa kali bersedia menjadi sandaran saya disana pun kini sedang berdiri kokoh menyangga bebannya sendiri karena saya tak mampu berbalik menyediakan bahu saya yang masih rapuh ini. Meski bukan alas tulis sesungguhnya dengan pena dan tinta sebagai pasangannya, alas tulis digital ini ampuh membuat saya sedikit lega menuangkan seper sekian persen perasaan hati saya kali ini.

Memang inilah wanita, inilah saya yang seper sekian persen otaknya tergambar dipenuhi pikiran yang menyangkut perasaan pribadi. Apa itu tidak mengganggu? Wait, let me answer…. to be honest, It’s really tiresome, It’s really annoying….eeerrrrrrr…. T.T

Sabar, banyak mengucap istighfar dan terus berusaha sibuk dan terbenam dalam pekerjaan betul-betul normalnya dapat membuat “galau” ini lenyap di tengah hiruk pikuk Jakarta, tapi…untuk kali ini..itu tidak mempan!!  Saya benci dengan hal ini, kenapa segala hal yang pernah saya pelajari sblmnya yang sangat ampuh menjadi solusi bagi beberapa sahabat yang curhat kepada saya kini bisa membuat saya tidak mampu menanganinya?? pada praktiknya saya hanya berhasil hingga meredam rasa tak nyaman ini..meredam, mungkin lebih tepatnya “pull the brake” bahasa jerman nya“ngerem”… menahan sehingga tidak tergelincir, tidak meledak keluar. Baguskah? tidak untuk kesehatan saya tapi sangat baik untuk lingkungan sekitar saya..

Well, saya memang terbiasa mengerjakan sesuatu di bawah tekanan, tapi untuk tekanan yang satu ini, tekanan yang bawa-bawa perasaan pribadi ini unbelievable powernya.. sampe harus ditangkal dengan ibadah yang di pool in… tidak hanya tahajjud, sholat sunnah,hingga puasa sunah sampai saya kerjakan.. God, what is this?? I feel hard to breath smoothly..😥 Saya butuh ketenangan dan kedamaian. Dan Engkau tahu apa itu….

Sigh..sigh..sigh.. ini berkali-kali saya lakuin”tanpa sadar”, se kronis inikah kondisi saya? Mungkin saat bekerja profesionalisme tetap dikedepankan, namun rasa itu makin terasa saat makin dihindari.. kali inilah wanita mengenakan “poker face” nya. ya Salaaam… I really need your help….

Seandainya rasa aneh itu setipis cirrus, mungkin saya tak akan segusar ini…Bahkan ketika rasa aneh itu sekelas stratus saya juga tidak akan banyak mengeluh..tapi karena akumulasi waktu menyebabkannya bergumpal seperti Cumulonimbus,ini rasa rindu..rasa rindu yag belum terhapus sejak lama…dan ke tak bergemingannya merespon rindu saya membuat saya sakit😥 dan parahnya, yang bersangkutan sm sekali “ngga ngeh” *skakmat… I’m so sick of this kinda condition…spare me, please….. bunyi spesial bertajuk “You’re One in a Million” pengiring setiap pesan masuknya, ataupun “I Live My Live on You” yang tak pernah berbunyi lagi membuat hari-hari saya murung…

ini MASALAH buat saya! Quote favorite saya, ” Masalah tidak akan jadi masalah saat kita tidak mempermasalahkannya” pun mental jauh kaya kena kamehameha Super Saiya 3….entah pihak mana yang harus bertanggung jawab… dalam kondisi ini jadi inget sebuah lyrics:

Go easy on my conscience
‘Cause it’s not my fault
I know I’ve been taught
To take the blame

Rest assured my angels
Will catch my tears
Walk me out of here
I’m in pain

As my soul heals the shame
I will grow through this pain
Lord I’m doing all I can
To be a better man

Yea,, sometimes we are in pain…and will grown up through this pain..it is a way to be a better man….Hanya Engkau yang mampu menjawab keresahan hatiku ini ya Rabb, sampaikan rasa itu padanya……….

Warmest Regards,

Dhienz UPS^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s